Kisah Nabi Muhammad SAW dan Bukhaira
Kaum muslimin yang
berbahagia, seperti yang kita sering dengar dalam majelis-majelis taklim
tentang bagaimana perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah menegakkan agama
islam. Semua tidaklah mudah penuh dengan rintangan. Namun satu yang tidak kita
lupa adalah pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Bukhaira. Peristiwa yang
merupakan awal dari sekian banyak kisah perjuangan seorang nabi penutup zaman.
Berikut kisahnya seperti diceritakan oleh Syekh Ali Jaber.
Nabi Muhammad SAW saat
berusia 12 tahun mengikuti pamannya Abu Thalib untuk berdagang ke Negeri As
Syam atau yang sekarang dikenal dengan Negara Suriah. Dalam perjalanan kafilah
Abu Thalib bertemu dengan seorang dari agama nasrani bernama Bukhaira. Nah… siapa
Bukhaira? Ia adalah seorang ahli kitab yang mengerti dan memahami tanda-tanda
kenabian dari kitab injil dan taurat. Ia memahami bahwa saat sekarang adalah
masa kedatangan seorang nabi dari kalangan Arab. Beliau seorang yang masih
mempertahankan ibadah dan tauhidnya kepada Alloh SWT. Dia tidak termasuk
orang-orang Nashara yang hanya mengerti tiada Tuhan selain Alloh dan Nabi Isa
yang mereka ikuti hanya seorang nabi bukan anak Tuhan.
Dalam keseharian beliau
selama ini tidak memperdulikan para kafilah yang datang dan pergi untuk
berniaga. Tapi kali ini beliau malah menyambut rombongan kafilan Abu Thalib
bersama Muhammad SAW. Apa yang menarik dari rombongan ini? Bukan, bukan karena
harta benda juga bukan karena sudah saling mengenal namun karena ada peristiwa
yang menarik, sangat menarik dan takjub. Beliau secara tidak sengaja melihat dan
memperhatikan selama rombongan ini berjalan awan selalu mengikuti kemanapun
mereka pergi untuk melindungi dari panas matahari. Belum pernah ia melihat
peristiwa alam seperti itu.
Karena rasa takjub dan
penasaran yang sangat, Bukhaira mengundang rombongan Abu Thalib masuk rumahnya
dan menawarkan makanan. Ketika mereka masuk Bukhaira bertanya “Dimana pemuda
yang bersama kalian tadi?” mereka menjawab “Dia diluar menjaga barang bawaan
kami” Bukhaira kemudian menjemput pemuda tersebut untuk ikut masuk dan makan
bersama. Bukhaira terus memandangi Muhammad SAW sampai beliau merasa takut.
Dalam benak Bukhaira, ada apa dengan anak ini mengapa sampai awan terus
melindungi ia dari sengat panas matahari bahkan ranting pohon pun ikut merunduk
meneduhkan mereka. Dan ia masih terus menatap memperhatikan dengan cermat dan
menemukan tanda kenabian di punggung pemuda Muhammad SAW seperti yang
dijelaskan dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Akhirnya Bukhaira
kemudian bertanya kepada Abu Thalib “Siapa anak tersebut?” “Ia anak ku” jawab
Abu Thalib. Bukhaira menjawab dengan tegas “tidak mungkin anak mu, ia
seharusnya sudah tidak mempunyai ayah” Abu Thalib kaget mendengar ucapan
Bukhaira, bagaimana ia bisa tahu tentang kemenakannya tersebut. Lantas Abu
Thalib membenarkan “Iya benar…dia bukan anak ku…ia keponakan ku..aku pamannya”
Bukhaira kemudian
menceritakan hal penting kepada Abu Thalib “Ini harus segera dibawa pulang…
karena ini adalah orang-orang yang kita tunggu-tunggu. Aku khawatir jika kalian
mempertahankan dan terus sampai ke Syam orang Yahudi sudah tahu ini nabi dan
rosul yang akan datang mereka bisa membunuh dan menyakiti Nabi Muhammad SAW,
segera lari segera kembali ke Mekkah selamatkan dari mata-mata orang Yahudi”
segera Abu Thalib dan rombongan kembali pulang ke Mekkah.
Kaum muslimin yang
berbahagia, itulah peristiwa luar biasa bagaimana Alloh melindungi Rosululloh
SAW bersama pamannya Abu Thalib sehingga mereka selamat kembali ke Mekkah.
Muhammad SAW tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan fisik yang kuat.
Kepribadianya pun terpuji sebagai pemuda yang jujur bergelar Al Amin atau yang
dipercaya. Hal ini tidak lepas dari pekerjaannya menjadi penggembala domba
dimana pekerjaan tersebut menuntut kejujuran dan keuletan. Peristiwa ini juga
membuktikan bahwa kenabian Muhammad SAW memang telah termuat dalam kitab-kitab
terdahulu dijelaskan dalam Al Quran surat Ass Shaff ayat 6 yang artinya “……….
‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan
kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan
(datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad
(Muhammad)’”.
وَما
أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
Artinya : ‘Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad,
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh semesta alam’ (QS Al Anbiya: 107).
Komentar
Posting Komentar